Di Tengah Kebijakan Impor Pakaian Bekas, Grabag Thrift Market Tetap Disambut Antusias 

Kamis, 15 Mei 2026  

Najwa Mutiara Laksono

 Acara Grabag Thrift Market, Kabupaten Magelang 14 Mei 2026
(Sumber: Juliana Novianti/Ilmu Komunikasi 2023)

Grabag, Kabupaten Magelang – Acara thrift perdana di Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang dengan sebutan Grabag Thrift Market resmi diselenggarakan pada tanggal 13-17 Mei 2026. Kegiatan ini menghadirkan berbagai penjual thrift dari sejumlah wilayah di Jawa Tengah, sekaligus menjadi ruang baru bagi perkembangan tren fesyen di Grabag. 

Hadirnya Grabag Thrift Market ini disambut antusias oleh masyarakat. Tidak hanya dari kalangan muda, pengunjung berasal dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa ikut memadati area acara sejak hari pertama diselenggarakan. 

Salah satu penyelenggara acara Chadhiq Aufa (29), mengatakan antusiasme masyarakat Grabag cukup tinggi. Bahkan, jumlah pengunjung pada hari pertama dihitung dari tiket parkir mencapai 300 orang, tidak termasuk pejalan kaki atau pengendara mobil. 

Chadhiq Aufa, Penyelenggara Acara Grabag Thrift Market, Kabupaten Magelang 14 Mei 2026
(Sumber: Juliana Novianti/Ilmu Komunikasi 2023)

Thrift itu menjangkau semua segmen, karena harganya terjangkau. Dan barang yang dijual juga kebanyakan barang impor,” ujarnya. 

Ia menilai, meskipun kebijakan pemerintah terkait impor pakaian bekas sudah lama diberlakukan, tren thrift tidak mudah hilang. Karena menurutnya, konsep thrift saat ini juga semakin berkembang lebih tertata dan modern. 

“Sekarang thrift udah masuk ke era baru yang lebih proper. Display pakaian dibuat lebih menarik, hanger kayu, pakaian di laundry dulu, supaya lebih layak dijual,” katanya. 

Selain menghadirkan tenant pakaian thrift, acara ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan musik, serta bazar makanan dan minuman dari pelaku UMKM setempat. Chadhiq menambahkan, adanya event ini diharap membantu memutar roda perekonomian masyarakat. Meski Grabag merupakan kecamatan kecil, tetapi minat masyarakat terhadap kegiatan seni dan hiburan cukup tinggi sehingga acara seperti ini memiliki peluang besar untuk berkembang. 

Sementara itu, kebijakan pemerintah terkait impor pakaian bekas diakui turut berdampak terhadap pelaku usaha thrift. Salah satu penjual thrift, Diad Adi Saputra (20), mengaku penjualan mengalami penurunan sejak aturan tersebut berlaku. Ia menyebutkan sebagian besar barang yang dijual juga berasal dari Jepang. 

Ia lebih mengutamakan kualitas barang yang dijual kepada konsumen, harga juga menjadi salah satu pertimbangannya. Namun, adanya kebijakan pemerintah tersebut tidak sedikit pelaku usaha thrift memilih tutup akibat penurunan penjualan. 

Acara Grabag Thrift Market, Kabupaten Magelang 14 Mei 2026
(Sumber: Juliana Novianti/Ilmu Komunikasi 2023)

Meski demikian, minat masyarakat terhadap produk thrift masih cukup tinggi. Salah satu pengunjung, Isna Naufalah Naswa (15), mengaku mengetahui acara melalui tiktok. Ia memilih membeli pakaian thrift karena kualitas yang dinilai baik dengan harga yang lebih terjangkau. 

Pendapat serupa yang disampaikan, Farid Dwi Setiawan (20), mengakui tidak terlalu bermasalah asal barang thrift, selama harga dan kualitasnya sesuai. 

“Kalau cocok bungkus, cocok harganya, cocok barangnya,” ujarnya. 

Antusiasme masyarakat pada acara Grabag Thrift Market menjadi tanda bahwa tren thrift masih diminati masyarakat, terutama kalangan muda yang mengutamakan kualitas dan harga terjangkau. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top